ブラウィジャヤ大学の日本文学科学生会

Beasiswa Monbukagakusho, Sebuah Pertarungan, Sebuah Perjuangan.

SHARE
, / 289 0

Tema Mingguan JPG_170408_0008

 

Menjadi mahasiswa di Fakultas Ilmu Budaya, dengan Program Studi Sastra Jepang, tentunya tidak asing di telinga kita saat kita mendengar istilah “Monbukagakusho” atau biasa disebut monbu. Ya, Monbukagakusho adalah salah satu Beasiswa Studi di Jepang yang sangat terkenal di kalangan Mahasiswa Sastra Jepang seluruh Indonesia. Sebuah beasiswa yang menyediakan studi di Negeri Sakura selama satu tahun, plus, diberi tunjangan per bulannya.
Dikutip dari website Kedutaan Besar Jepang di Indonesia:
Pada saat ini sekitar 2500 siswa Indonesia tengah melanjutkan pendidikannya di Jepang. Dari jumlah tersebut, sebagian besar adalah mereka yang menerima beasiswa, baik dari pemerintah Jepang, instansi maupun perusahaan lainnya. Beasiswa Pemerintah Jepang yang cukup dikenal oleh masyarakat Indonesia adalah beasiswa dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olah Raga, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Jepang (Monbukagakusho/ MEXT). Beasiswa ini meliputi biaya studi dan biaya hidup, tanpa ikatan apapun.  Kedutaan Besar Jepang di Indonesia dan Konsulatnya di Surabaya, Medan dan Makassar setiap tahun melaksanakan pendaftaran dan penyeleksian bagi para peminat beasiswa Monbukagakusho. Adapun program-program yang ditawarkan kepada siswa Indonesia adalah Program Research Student bagi lulusan perguruan tinggi, Undergraduate, College of Technology dan Professional Training College bagi lulusan SLTA dan Japanese Studies bagi mahasiswa program studi Jepang serta Teacher Training bagi guru.
Dengan fasilitas sedemikian rupa, tentu saja, bagi Mahasiswa Sastra Jepang yang bermimpi untuk pergi ke Jepang sangat menggiurkan. Namun dibalik hasil dan fasilitas yang didapatkan, tentu saja ada proses, perjuangan, dan pengorbanan yang harus dilakukan. Seperti apakah perjuangan yang harus dilakukan? Untuk itu saya melakukan sedikit interview secara online dengan Senpai yang mengikuti rangkaian proses menuju Monbukagakusho.
Untuk itu saya melakukan wawancara dengan Meisha-Senpai (2014), untuk sedikit mengetahui bagaimana proses yang beliau jalani.
“Jadi proses seleksinya bener-bener ketat. Dari seleksi di universitas buat ikut benkyoukai, terus tes tulis di Surabaya, kalo lolos tes wawancara di Jakarta. Hasil tes wawancara di Jakarta dikirim ke pemerintah Jepang, kalo lolos oke, kalo gagal, bye. Yang lolos, hasilnya dikirim ke univ masing-masing, baru diterima. Jadi nggak mesti kalo udah lolos tes wawancara pasti lolos.” ujar Meisha-senpai.
Begitu sulit proses yang dilalui untuk mendapatkan Monbukagakusho. Tentunya saya juga penasaran, bagaimana proses yang dijalankan oleh peserta yang lain. Lalu saya sedikit melakukan wawancara dengan Aka-senpai.
“Waktu benkyokai itu taihen tapi seru. Walaupun jatah liburan kepotong lumayan banyak, tapi worth. Selain itu materi yang dikasih juga terjamin. Makanya UB selalu banyak yang lolos tes. Karena terbiasa mogi shiken soal lampau, kita jadi terbiasa. Pas tes paling cuma kinchou aja. Untuk persiapan wawancara juga dosen kita semangat ngebantuin. Itu yang jarang dimiliki univ lain. Makanya kita banyak lolos wawancara.”
Hal yang serupa juga diutarakan oleh Silvi-senpai
“Prosesnya panjaang sih sebenernya, awalnya sih ya seleksi di prodi Sasjep dan Penjep, terus baru mulai benkyoukai buat persiapan tes tulis monbu. Jadi kita benkyoukai itu sebulan lebih, waktu liburan semester ganjil itu. Jadi semester kemaren itu ga libur. Terus kita harus rajin masuk benkyoukai dan tiap hari ada tes, nilai kita harus stabil supaya bisa ‘survive’ di benkyoukai.” kata Silvi-senpai.
“Jadi di benkyoukai ada peraturannya, kalo gamasuk tanpa ngabarin sensei lebih dari 3 kali out. Terus kalo nilai tesnya dibawah 50 tiga kali juga out. Nanti setelah benkyoukai selesai, kita ikut tes tulis di Surabaya.”
Perjuangan yang dilalui tentu sangatlah berat jika kita melihatnya dari luar, namun para peserta Monbukagakusho tidak menyerah. Sebuah bentuk dukungan tentunya akan memberikan dampak yang positif bagi para mahasiswa yang mengikuti program ini. Tak heran jika tahun ini, beberapa mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Program Studi lolos dalam tes Monbukagakusho. Atas nama, Aly Aulia Fatha (2013), Fahmi Nahindri (2014), Fawwaz Ikbar Abidin (2014), Muhammad Alkaf (2013), Muhammad Sidiq R. (2013), dan Silviani Yulianti (2014), dinyatakan lolos dan mendapatkan beasiswa Monbukagakusho.
Tentu saja saya penasaran dengan bagaimana perasaan senpai-tachi yang lolos. Dan saya saya memutuskan untuk mewawancara secara online salah satu senpai yang lolos, yaitu, Silvi-senpai.
“Seneng banget, karena usaha dan proses panjang yang dilalui buat ikut monbusho akhirnya terbayar. Terus excited juga karena akhirnya bisa ke Jepang cari ilmu dan pengalaman.” ujar Silvi-senpai
Usaha tidak akan menghianati hasil, namun jika hasil yang didapat tidak sesuai harapan, tetap akan ada banyak pelajaran yang kita ambil di dalam prosesnya. Tentunya tidak semua peserta lolos, dan gugur dalam sebuah tes itu pasti ada. Namun beberapa senpai berpesan.
“Buat temen-temen yang sudah punya N3 keatas, monggo dicoba aja ikut tesnya. Walaupun susah tapi prosesnya bener-bener bikin ilmu kita seputar BahasaJjepang bertambah. Jangan takut gagal atau berkecil hati kalau gagal karena masih banyak beasiswa lain ke Jepang kok.” sebuah pesan dari Meisha-senpai.
Silvi-senpai pun juga turut memberikan pesan kepada kita semua
“Pesennya jangan takut coba monbusho, jangan punya pikiran “Monbusho kan susah, aku gabisa”, aku dulu juga ga bisa, tapi banyak yang belajar di benkyoukai. Positive thinking aja, kalaupun ga lolos tes tulis/wawancara, kalian bakal dapet ilmu yang banyaaak banget, gratis lagi hehe.”
Hidup ini adalah berupaya, terkadang ketakutan akan kegagalan, menghadang langkah kita untuk menjadi manusia yang lebih baik. Manusia tak akan bisa menjadi baik, tapi ia bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya, dan hidup ini ada untuk kita agar berupaya menjadi lebih baik. Kegigihan senpai-tachi dalam memperjuangkan Monbukagakusho, seharusnya menjadi tamparan bagi kita semua. Walaupun beberapa kegagalan diterima, itu tidak menjadi masalah. Selama ada kesempatan, terjang! Jadi masihkah ada alasan bagi kita untuk ragu?

Leave A Reply

Your email address will not be published.