Manga Kurabu

BADAI Manga Kurabu, atau biasa disebut Mangku, adalah kurabu yang berfokus pada penyaluran bakat ilustrasi dan manga. Nama “BADAI” adalah singkatan dari Brawijaya Daigaku, yang berarti kurabu ini berasal dari Universitas Brawijaya. Meskipun di bawah naungan HIMAPRODI Sastra Jepang UB, anggota Mangku tidak hanya berasal dari Sastra Jepang UB, namun juga kalangan mahasiswa dari luar prodi bahkan luar UB.

Kurabu ini dibentuk pada tanggal 3 Maret 2012. Menurut cerita dari seorang senpai, sebelum kurabu ini dibentuk, ada perkumpulan orang-orang yang suka menggambar. Suatu hari, ada seorang sensei yang menyarankan Kak Masayu, salah satu anggota perkumpulan ini untuk membuat kurabu. Akhirnya terciptalah kurabu ini, dengan Kak Masayu sebagai ketua pertama Mangku.

Yosakoi Kurabu

Badai Yosakoi adalah salah satu kurabu yang dinaungi Himpunan Mahasiswa Sastra Jepang FIB UB. Badai Yosakoi sendiri didirikan oleh sensei Sonomura Emi pada tahun 2008. Badai Yosakoi sendiri tidak hanya merekrut anggota dari Sastra Jepang atau FIB saja, tapi juga dari fakultas lain di UB.

Badai Yosakoi dikenal lewat tarian Jepang Yosakoi yaitu tarian dengan ciri khas gerakan tangan dan kaki yang dinamis. Asal usul kata Yosakoi adalah Yosakoi (夜さ来い) yang berarti “datanglah kau malam ini”. Menurut kisah lain, kata Yosakoi berasal dari seruan para pekerja bangunan ketika membangun Istana Kouchi.

Badai Yosakoi mulai aktif berpartisipasi tahun 2009 dalam Festival Yosakoi Surabaya. Semenjak itu, Badai Yosakoi sering sekali menjadi pengisi acara maupun guest star di acara matsuri SMA ataupun kampus lain seperti acara Minori 2, Nidayaku 2, Bunkasai SMA, JW Unair, pembukaan The Onsen Batu dan masih banyak lagi. Akhir-akhir ini Badai Yosakoi tampil di pembukaan Transmart MX Malang, acara acara intra FIB UB, dan restoran jepang seperti Sugoi Tei. Selain menampilkan tarian Yosakoi, mereka juga menampilkan tarian souran serta dance cover dengan lagu-lagu berbasis bahasa Jepang dengan musik tradisional.

Prestasi yang diraih oleh Badai Yosakoi meliputi :

1. Best Costume dalam 7th Surabaya Yosakoi Festival tahun 2009

2. Favorite Winner dalam 12th Surabaya Yosakoi Festival tahun 2014

3. Favorite Winner dalam 16th Surabaya Yosakoi Festival tahun 2018.

Latihan rutin Badai Yosakoi dilakukan sekali dalam satu minggu. Latihan bukan hanya terdiri dari gerakan 1-8 saja, namun juga termasuk bagaimana cara pemanasan yang benar untuk kelenturan dan kekuatan tubuh, serta latihan pernapasan dan stamina tubuh. Belajar tari tidak sekedar tari Yosakoi saja, namun tari tradisional Jepang lainnya seperti Zenbon Sakura atau Geisha (pernah menampilkan Geisha di Sugoi Tei tahun 2013). Dikarenakan yosakoi merupakan tari massal, maka ada latihan untuk kekompakan tim, saling komunikasi sesama anggota sehingga estetika dan kerjasama antara grup bisa terwujud.

Ganoko Kurabu

Ganoko merupakan nama dari kurabu/klub yang berkecimpung didunia cosplay atau costume player. Kurabu ini terbentuk dan diresmikan pada tahun 2013 di Universitas Brawijaya Malang. Saat ini kurabu ini diketuai oleh Syalwa Febi Annisa Abigail dari Prodi Sastra Jepang angkatan 2017. Kurabu ini dibentuk untuk manampung minat dan bakat mahasiswa di bidang cosplay. Kurabu ini juga dinaungi oleh Hima Prodi Sastra Jepang. Meskipun kurabu ini dibawah naungan Hima Prodi Sastra Jepang, mahasiswa dari prodi lain maupun fakultas lain juga diperbolehkan mengikuti kurabu ini. Contohnya ada yang dari Filkom (Fakultas Ilmu Komputer), fisika, penjep, teknik, dan kimia. Kegiatan dari Kurabu Ganoko ini adalah melakukan pelatihan make up, pelatihan membuat kostum dan setiap sebulan sekali diadakan photo session.

Kendo Kurabu

Kendo adalah seni bela diri modern Jepang yang mempelajari ilmu berpedang Jepang. Ilmu beladiri ini menggunakan pedang bambu yang bernama shinai. Di Universitas Brawijaya terdapat satu klub kendo yang bernama Badai Kendo Kurabu. Klub ini dinaungi oleh Hima Prodi Sastra Jepang. Badai Kendo Kurabu ini didirikan oleh Benny pada tanggal 11 bulan November tahun 2011. Kurabu ini berdiri untuk menampung para mahasiswa yang berminat di beladiri berpedang Jepang.

Sekarang ketua dari Kurabu Kendo ini adalah Muhammad Evan Airlangga dari prodi sastra Jepang angkatang 2017. Sampai sekarang Badai Kendo Kurabu ini masih aktif berlatih yang biasanya di lakukan setiap Sabtu jam 8 pagi, tepatnya di Gor Pertamina Universitas Brawijaya. Kurabu ini juga memenangkan banyak penghargaan dari berbagai lomba. Contohnya pada Koryuuuki 2018 ini mendapatkan juara 2 kategori individual pria, juara 2 kategori team match, juara 3 kategoti team match, dan juara 3 team match di National Kendo Tournament. Selain mengikuti turnamen Kurabu Kendo juga mengadakan Kendo Goes to School untuk mengenalkan olahraga kendo baik ke SMP maupun SMA.

Megumi Kurabu

Megumi Kurabu adalah sebuah kurabu yang bergelut di bidang seni lipat kertas khas Jepang atau yang dikenal juga dengan nama origami. Nama Megumi sendiri memiliki arti blessing atau berkat. Kurabu ini didirikan pada tahun 2005 oleh seorang dosen yang bernama Anis dengan tujuan menampung mahasiswa yang memiliki minat di bidang seni melipat kertas. Kurabu ini terbuka untuk umum, mahasiswa selain Sastra Jepang diperbolehkan untuk bergabung.

Kini Megumi memiliki anggota sebanyak 15 orang. Pertemuan wajib kurabu dilakukan seminggu dua kali, yaitu pada hari Senin dan Kamis, bertempat di sekitar aula Gedung A Fakultas Ilmu Budaya. Pada pertemuan ini aktivitas harian kurabu berjalan. Tidak hanya terfokus pada origami, Megumi Kurabu pada kesehariannya juga membuat kerajinan dan variasi seni kertas lain, seperti kirigami (kertas yang digunting), pop-up, kusudama, paper quilling, paper figure, dan membuat diorama dari kerajinan-kerajinan tersebut.

Di luar aktivitas harian tersebut, Megumi Kurabu juga kerap mengisi dan membuat workshop yang berkaitan dengan seni dan kerajinan kertas, menjual hasil kerajinan, mengadakan kegiatan untuk siswa taman kanak-kanak, dan menjadi pemateri dan juri.

Ryoukai Kurabu

Di Jurusan Sastra Jepang Universitas Brawijaya ada suatu kurabu yang bernama Ryoukai Kurabu. Ryoukai Kurabu adalah kurabu yang bergerak di bidang makanan. Ryoukai sendiri terdiri dari kata Ryouri yang artinya makanan dan au yang artinya bertemu. Karena asal nama tersebutlah Ryoukai Kurabu ini menampung semua mahasiswa yang berminat di bidang makanan khususnya makanan Jepang. Ketua saat ini dari Ryoukai Kurabu adalah Sutan Alif Sani dari Sastra Jepang Universitas Brawijaya angkatan 2017.

Sampai saat ini, Ryoukai Kurabu masih aktif melakukan kegiatan kumpul dan masak bareng tiap 2 minggu sekali pada hari Sabtu. Kegiatan dari kurabu ini tidak hanya kumpul, memasak, dan juga makan bersama. Namun Ryoukai Kurabu juga memiliki suatu kegiatan yaitu berjualan di event–event yang ada di sekitar Universitas Brawijaya.

Shodou Kurabu

Shodou Kurabu adalah kurabu yang bernaung di bawah Himaprodi Sastra Jepang Universitas Brawijaya. Kurabu ini didirikan atas dosen yang mengajar di prodi Sastra Jepang.

Sebelum kurabu ini dibentuk mulanya ada kelompok peminat shodou dan dosen yang membimbing kelompok tersebut. Setelah itu, kurabu ini dibentuk atas rekomendasi dari dosen tersebut. Akhirnya terbentuk Shodou Kurabu. Disini kita bakal mengetahui shodou itu sendiri. Shodou adalah seni kaligrafi menulis dari Jepang. Di kurabu ini kita dapat mempelajari beberapa teknik menulis sesuai aturan kaligrafi Jepang. Selain itu kita juga dapat menjual hasil karya-karya yang dibuat oleh anggota-anggota Shodou Kurabu. Tujuan didirikannya kurabu ini yatu dapat mengasah keterampilan dan mengembangkan kemampuan shodouka di bidang kaligrafi Jepang.

KURABU NO HI – DRAMA KURABU

1509414335731

 

Halo, minna-san!
Gimana kabarnya?
Kurabu no Hi sudah semakin dekat nih!
Gimana? Sudah siap untuk ikut serta dalam kemeriahan Kurabu no Hi belum?
Jangan lupa catat tanggal mainnya di note kalian tanggal 5 November 2017 ya! 😉
Kami tunggu kedatangannya di Kurabu no Hi 2017!!! 👋😆

FIBEATS, KEMBALI REBUT JUARA DI GJUI

1502546561150

 

725503

 

725505

 

 

Berita menggembirakan lagi-lagi datang dari salah satu kurabu di Sastra Jepang, siapa lagi kalau bukan FIBeats. Yap, kurabu yang bergelut di bidang dance cover ini berhasil membawa pulang juara pertama dalam ajang lomba dance cover di Gelar Jepang Universitas Indonesia 2017. Gelar Jepang Universitas Indonesia atau lebih sering disebut dengan GJUI ini sendiri merupakan sebuah festival kebudayaan Jepang yang diselenggarakan oleh HIMAJA UI pada tanggal 4—6 Agustus 2017 kemarin.
Persiapan yang dilakukan untuk mengikuti lomba ini pun cukup lama. “Kita sudah mulai latihan untuk audisi waktu bulan puasa kemarin dan mulai intensif latihan setelah lebaran,” ungkap Safira—ketua dari FIBeats. Selain itu, mereka juga tidak sembarangan memilih lagu yang akan mereka bawakan di panggung GJUI. Mereka merasa kalau lagu yang mereka pilih akan menjadi kunci untuk mendapatkan juara. Itulah mengapa mereka menampilkan Daibouken (Kamen Joshi), Mugendai Shoujo (Cheeky Parade) dan Otsukare Summer (Denpagumi inc) karena dirasa unik dan masih jarang dibawakan oleh grup lain.
“Sebenarnya awalnya kita sempat minder sih, soalnya grup yang lain itu bagus-bagus semua. Tapi kita tetap berusaha yang terbaik,” jawabnya saat ditanya tentang perasaannya saat sebelum tampil. “Tapi setelah tampil, ternyata komentar yang diberikan para juri positif semua. Menurut mereka kami bisa memperlihatkan ciri khas dari lagu-lagu yang kami bawakan, bisa tampil sebagai performer bukan kompetitor dan meski dulu FIBeats juga sering menang, kita tidak terlena dan malah terus meningkat,” tambahnya kemudian. Wah, hebat ya FIBeats! Sampai-sampai para juri memberi respon yang sangat positif.
Di lain sisi, tentu saja ada suka duka yang dirasakan para member FIBeats selama persiapan lomba ini. Kalau menurut sang ketua, berkat seringnya latihan dan menginap bersama saat di Jakarta, mereka jadi lebih dekat satu sama lain. Meski sempat baper-baper saat latihan karena pressure untuk mempertahankan juara. Tak hanya itu, ternyata banyak penggemar FIBeats di Jakarta. “Waktu perform yang hari kedua banyak banget yang manggil-manggil FIBeats sebelum kita tampil. Benar-benar nggak nyangka deh,” ujar Safira dengan gembira.
“Ya, semoga saja tahun depan kita bisa tampil lagi di GJUI. Tapi bukan sebagai peserta tapi pengisi acara soalnya kan kita sudah beberapa kali menang juga,” katanya saat ditanya tentang harapan FIBeats untuk GJUI ke depannya.
Wah, keren sekali ya. Semoga harapannya bisa terwujud dan semangat terus untuk FIBeats! (ningrum)

BADAI YOSAKOI DALAM FESTIVAL TARI REMO-YOSAKOI SURABAYA 2017

fs yosa

 

Dua minggu yang lalu, tepatnya tanggal 9 Juli 2017 Badai Yosakoi kurabu telah berpartisipasi dalam Festival Tari Remo dan Yosakoi di Surabaya. Festival tersebut digelar dalam rangka memperingati 20 tahun sister city Surabaya-Kochi.
Walaupun persiapan Badai Yosakoi dalam festival tersebut kurang dari sebulan, tak membuat Badai Yosakoi pesimis. Segala keperluan, seperti kostum, tata rias dan gerakan tarian digarap sendiri oleh Badai Yosakoi dengan bantuan para senpai terdahulu.
Tim Badai Yosakoi berangkat ke Surabaya pada H-1 acara untuk mengikuti gladi bersih. Keesokan harinya, Tim Badai Yosakoi bersiap untuk berkompetisi dalam Festival Yosakoi 2017 dengan semangat. Tim Badai Yosakoi menampilkan tarian dan berhasil membuat penonton ikut tersenyum, yang merupakan salah satu tujuan dari tari yosakoi (membuat orang yang melihat ikut gembira). Dan juga, menerima tepuk tangan yang meriah dari penonton adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi para penari. Setelah selesai tampil, tampak wajah lega dan haru karena latihan keras yang dijalani telah terbayarkan dengan memberikan penampilan terbaik. Bahkan, beberapa ada yang menangis terharu. Terasa sekali ya kekeluargaan Tim Badai Yosakoi!
Nah, selain penari, ada juga official yang menangani segala keperluan festival. Yuk kita simak kesan dan pesan dari Kak Sendi, yang merupakan ketua dari Badai Yosakoi Kurabu.
Gimana sih kesan kak Sendi melihat proses Tim Badai Yosakoi dari latihan sampai di hari H festival?
Alhamdulillah sih prosesnya lancar melibihi target malah, meskipun hasilnya ga sesuai harapan tapi rasanya seneng aja dan ga ada penyesalan.
Ada pesan yang ingin disampaikan nggak, kak? Untuk Badai Yosakoi ke depannya.
Pesennya buat kepengurusan tahun depan aja sih, kalo bisa untuk festival tahun depan persiapannya harus lebih awal lagi dan bikin gerakan yang lebih kreatif lagi, ehe. Oiya, gaboleh nyinyir. Kalo nyinyirin orang pasti kena batunya nanti.
– Ratri