ブラウィジャヤ大学の日本文学科学生会

KIROBO MINI MILIK TOYOTA UNTUK MASALAH POPULASI JEPANG

SHARE
, / 147 0

Mingguan Hima_170415_0001

KIROBO MINI MILIK TOYOTA UNTUK MASALAH POPULASI JEPANG

 

Jepang saat ini sedang mengalami masalah kependudukan yang cukup serius. Menurut laporan, selama lima tahun terakhir, jumlah populasi Jepang menurun sebanyak hampir satu juta karena makin banyak orang-orang di usia produktif yang menjauh dari ide membangun keluarga. Robot yang bisa menemani manusia memang menjadi salah satu obsesi lama di Jepang, dipicu oleh populasi yang semakin menua di Negara Matahari Terbit itu. Penurunan jumlah populasi Jepang memecahkan rekor pada tahun ini, sejak pencatatan penurunan populasi pertama kali dilakukan pada tahun 1968 silam.

Jepang saat ini merupakan negara yang “menua” paling cepat di dunia. Berdasarkan data resmi, jumlah warga Jepang yang masih hidup jatuh ke titik terendah dalam 7 tahun, dari 271,8 juta jiwa pada Januari 2016 menjadi 125,9 juta jiwa.

Jumlah populasi terbesar berada di kawasan urban seperti Tokyo dan sekitarnya, Nagoya, dan Kansai. Sementara itu, jumlah warga asing yang tinggal di Jepang dilaporkan meningkat 5,4 persen dari 111.562 menjadi 2,17 juta jiwa.

Data menarik lainnya adalah sebanyak 1,30 juta warga Jepang wafat sepanjang tahun 2016, sementara yang lahir lebih rendah, yakni 1,01 juta.

Perdana Menteri Shinzo Abe telah menargetkan untuk menghentikan laju penurunan populasi yang dikhawatirkan akan berada di bawah 100 juta jiwa. Namun, langkah ini dicemaskan gagal, karena diprediksi jumlah angkatan kerja akan anjlok hingga lebih dari 40 persen pada tahun 2060.

Jumlah warga asing yang datang ke Jepang terus meningkat sejak tahun 1990an. Hal ini sejalan dengan semakin banyaknya pelajar, pekerja, dan keluarga asing yang datang dan menetap di Negeri Sakura tersebut.

“Populasi warga asing menurun sejak krisis keuangan dan gempa bumi tahun 2011,” kata Yu Korekawa, peneliti senior di National Institute of Population and Social Security Research yang berpusat di Tokyo.

Populasi di 40 dari 47 prefektur dilaporkan menurun. Adapun penurunan paling tajam terjadi di kawasan pulau di utara Hokkaido, sementara peningkatan terjadi di Tokyo dan sekitarnya yang mengindikasikan banyak keluarga muda pindah ke ibukota.

Data demografi juga menunjukkan bahwa 1 dari 10 wanita Jepang memutuskan untuk tidak menikah. Akibatnya, angka kelahiran, menurut data countrymeters, hanya mencapai 798.350 bayi, jauh di bawah angka kematian yang mencapai 964.955 jiwa pada 2016.

Selain itu, dilaporkan The Guardian (30/6/2016), berdasarkan sensus 2015, jumlah penduduk Jepang yang berusia di atas 65 tahun sudah mencapai 26,7 persen dari populasi. Sebuah rekor tertinggi baru di negara berpenduduk 127 juta jiwa tersebut.

Sementara anak berusia di bawah 15 tahun jatuh ke titik terendah, yaitu 12,7 persen dari total populasi. Karena itulah, menurut Reuters, pemerintah Jepang mendorong perusahaan-perusahaan teknologi untuk menciptakan robot guna mengisi kekosongan tenaga kerja akibat berkurangnya jumlah manusia untuk berinteraksi dan menemani manusia saat ini. Kemudian, Toyota berusaha tawarkan solusi yang terbilang tak biasa untuk urusan masalah demografis, yaitu, dengan memperkenalkan ‘robot bayi’ bernama Kirobo Mini.

Oktober 2016 Toyota meluncurkan produk terbarunya. Produsen mobil asal Negeri Sakura ini memperkenalkan ‘robot bayi’ Kirobo Mini. Ini adalah robot versi mini dari Kirobo Pertama yang diperuntukkan sebagai ‘teman’ para astronot selama dalam perjalanan panjang menyusuri luar angkasa.

Menurut Kepala Perancang Kirobo Mini, Fuminori Kataoka, robot ini memang didesain untuk menyerupai seorang bayi. Ia menjelaskan bahwa Kirobo Mini suka mengoceh dan belum bisa menyeimbangkan diri sendiri layaknya bayi. Kirobo Mini juga bisa mengenali wajah pemiliknya berkat kamera yang dipasang di dalamnya. Ia menyebut ‘robot bayi’ ini mampu membangun hubungan emosional dengan pemiliknya.

Meski tak disebutkan secara eksplisit, tapi banyak yang berspekulasi bahwa kehadiran Kirobo Mini sesungguhnya tidak semata-mata ditujukan untuk menjadi teman bagi pemiliknya, tapi juga untuk menstimulasi insting orangtua dan perasaan ingin melindungi di kalangan usia produktif di Jepang. Tujuan jangka panjangnya adalah agar mereka mau membangun keluarga sendiri dan mengakhiri persoalan penurunan populasi di Jepang.

Kirobo Mini yang bertinggi 10 cm ini, sesuai namanya, merupakan versi mini dari Kirobo yang dibawa oleh astronot pertama Jepang, Koichi Wakata, ke Stasiun Antariksa Internasional (ISS) pada 2013. Selain peneman, sebagai sebuah perusahaan otomotif, Toyota tentunya punya alasan lain saat membuat Kirobo Mini.

Pemanufaktur kendaraan terbesar di Jepang ini terus berupaya mengembangkan kecerdasan artifisial dan mencari para ahli robot untuk menghadapi persaingan dengan masuknya raksasa teknologi seperti Apple dan Google dalam industri otomotif.

Selain itu, melalui robot Toyota juga tampaknya berharap bisa mendekati generasi muda Jepang yang mulai tak tertarik untuk memiliki kendaraan.

“(Robot) ini mungkin akan membantu membuat orang-orang tertarik atau suka kepada Toyota, atau membantu menghubungkan kembali kami dengan para pelanggan yang sudah meninggalkan mobil Toyota,” kata Kataoka.

Toyota, menurut Quartz, menyatakan telah berinvestasi USD1 miliar untuk pengembangan robot dan mobil swakemudi dalam beberapa tahun mendatang. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas hidup dan memberi bantuan untuk menggerakkan manusia saat semakin tua.

Kirobo Mini akan dipamerkan pada ajang CEATEC JAPAN 2016 di Chiba Prefecture, 4-7 Oktober. Pada saat itu segala hal mengenai robot ini bisa diketahui dan para pengunjung akan diberi kesempatan untuk berinteraksi dengannya.

Nampaknya memang masyarakat Jepang secara umum merasa nyaman hidup dikelilingi oleh robot. Berdasarkan laporan, di tahun 2016 ini Jepang berada di posisi kedua setelah Korea Selatan sebagai negara yang masyarakatnya paling banyak menggunakan robot dalam kehidupan sehari-hari. Di Jepang, ada 314 robot per 100.000 orang. Robot-robot ini tak hanya digunakan untuk memudahkan pekerjaan, tapi sudah diperuntukkan sebagai teman hidup.

Padahal sudah kita ketahui, manusia tidak akan pernah bisa hidup tanpa manusia yang lain. Manusia adalah makhluk sosial. Berapapun jumlah robot di dunia ini manusia tetap membutuhkan manusia yang lain. manusia memiliki kebutuhan dan kemampuan serta kebiasaan untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan manusia yang lain, selanjutnya interaksi ini berbentuk kelompok.

Manusia sebagai insan politik atau dalam istilah yang lebih populer manusia sebagi zoon politicon, mengandung makna bahwa manusia memiliki kemampuan untuk hidup berkelompok dengan manusia yang lain dalam suatu organisasi yang teratur, sistematis dan memiliki tujuan yang jelas,seperti negara. Sebagai insan politik,manusia memiliki nilai-nilai yang bisa dikembangkan untuk mempertahankan komunitasnya.

Hanya saja antara manusia dan robot berbeda memiliki cara mengelompok yang berbeda, robot mengandalkan pemikiran manusia itu sendiri,sedangkan manusia berkelompok dilakukan melalui proses belajar dengan menggunakan akal pikirannya.Sifat berkelompok pada manusia didasari pada kepemilikan kemampuan untuk berkomunikasi, mengungkapkan rasa dan kemampuan untuk saling bekerjasama. Selain itu juga adanyakepemilikan nilai pada manusia untuk hidup bersama dalam kelompok,antara lain: nilai kesatuan, nilai solidaritas,nilai kebersamaan dan nilai berorganisasi.

https://beritagar.id/artikel/sains-tekno/kirobo-mini-robot-peneman-hidup-dari-toyota

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/07/15/060000526/Penurunan.Jumlah.Populasi.Jepang.Pecahkan.Rekor

http://galangalfarisi22.blogspot.co.id/2013/11/manusia-sebagai-makhluk-sosial.html

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.