ブラウィジャヤ大学の日本文学科学生会

Universitas Brawijaya, Juara Kanji Cup XI 2013

SHARE
, / 564 0

Surabaya (02/03/2013), Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menjadi tuan rumah Kanji Cup XI 2013 yang diadakan Konsulat Jenderal Jepang. Kompetisi yang diadakan di Gedung Gema Universitas Negeri Surabaya, Kampus Ketintang – Surabaya ini diikuti oleh sejumlah para pembelajar dari lembaga formal, yaitu Perguruan Tinggi, SMA sederajat serta sekolah bahasa Jepang umum se-Indonesia. Kanji Cup ini rutin diselenggarakan oleh Konsulat Jendral Surabaya bekerjasama dengan PERSADA (Perhimpunan Alumni dari Pelajar Jepang), Jasmin dan I’Mc Center Surabaya setiap tahunnya. Walaupun Indonesia bukan negara yang menggunakan huruf Kanji, tapi dengan diselenggarakannya lomba ini memberikan kesempatan kepada para pembelajar huruf Kanji untuk lebih meningkatkan sosialisasi dan minat terhadap huruf Kanji.

Universitas Brawijaya, sang juara bertahan tahun lalu, tentunya dengan harapan ingin mempertahankan gelar sekaligus piala bergilirnya pun ikut berpartisipasi dalam kompetisi bergengsi ini. Persiapan yang dilakukan para peserta Kanji Cup adalah dengan mengikuti benkyokai, bimbingan belajar, secara selama kurang lebih satu bulan yang dibimbing oleh Sensei-tachi yang biasa mengajarkan Kanji yaitu, Agus Budi Cahyono, M.Lt untuk level chuukyuu, sedangkan untuk level shookyuu dibimbing oleh Emma Rahmawati Fatimah, S.S. dan Ni Made Savitri Paramita, S.S. Dalam bimbingan tersebut juga diadakan seleksi internal. Sejumlah mahasiswa Kanji yang sudah lulus seleksi internal inilah yang akhirnya mengikuti Kanji Cup. Dengan ini, persiapan Universitas kita kali ini sudah mantap.

Lomba dibuka dengan pemukulan gong oleh pihak Konsulat Jenderal Jepang.

Lomba dimulai dari babak awal level chuukyuu, tingkat menengah. Peserta diminta untuk mengubah bacaan Kanji dalam bentuk hiragana dan sebaliknya. Suasana lomba pada saat itu masih terbilang agak lengang dan kaku dengan sedikit sorak sorai dari peserta. Di kursi penonton, terlihat masih banyak peserta yang memaksimalkan persiapan mereka dengan belajar seadanya dengan buku yang mereka bawa. Kadang mereka ikut mencoba menerka jawaban pertanyaan chuukyuu yang tengah tampil di layar.

Keadaan mulai gaduh ketika level shookyuu, tingkat dasar, dimulai. Pertanyaan diawali dengan babak maru batsu, yaitu menentukan apakah pertanyaan yang ada pada layar benar atau salah. Selain pengetahuan yang dalam dunia Kanji, babak ini bisa dikatakan juga mengandalkan keberuntungan. Hal ini terungkap ketika baik peserta yang gugur atau lanjut mengakui bahwa mereka sempat memilih jawaban berdasarkan perasaan.

Pada saat yang sama supporter mulai riuh menyerukan yel-yel dan meneriakkan nama lembaga bahkan nama peserta yang lolos. Begitu pun sejumlah supporter dari Universitas Brawijaya, dengan bermodalkan sepasang spanduk tanpa malu-malu mereka berteriak-teriak mendukung peserta asal Universitas kita tercinta ini.

Dukungan itu tidak sia-sia dengan berhasilnya Satriya Ady Priyanata (Sastra Jepang 2011) meraih gelar runner up level shookyuu. Hal ini sungguh tidak diduga-duga oleh Satriya yang selain peserta tapi juga sekaligus ketua pelaksana panitia Kanji Cup internal ini. Sebelumnya, Satriya malah menaiki bus berpenumpang suporter bukan bersama peserta lain dan para Sensei. Dan karena kelebihan penumpang, Satriya berdiri sepanjang perjalanan dari Universitas Brawijaya sampai Universitas Negeri Malang. Hebat! Ketika ditanya soal persiapan sebelum lomba,
“Persiapannya ya belajar yang rajin, trus mengikuti instruksi Sensei-tachi pas benkyoukai”.
Satria pun baru kali pertama mengikuti Kanji Cup, setelah sebelumnya hanya menjadi suporter. Satria juga mengungkapkan, dia gugup saat memasuki babak final shookyuu.
“Gugup puool, soalnya nggak ada perwakilan dari UB lain di final selain saya. Nggak pernah kepikiran kalau bisa sampai juara, meskipun kemampuan pas-pasan”.

Beda dengan Satriya, beda juga dengan para juara kita di level chuukyuu. Selain juara kedua pada level shookyuu, Universitas Brawijaya juga berhasil menyapu bersih juara pertama sekaligus kedua pada level chuukyuu. Dengan perolehan 153 poin untuk juara pertama dan 140 poin untuk juara kedua, meninggalkan Universitas Negeri Surabaya, yang menjadi juara pertama pada level shookyuu, dengan perolehan 95 poin dalam babak final.
Juara pertama kita pada level chuukyuu yang merupakan tim UB2, yaitu Maria Sekarani Kumalawangi (Sastra Jepang 2010) dan Rahardian Pratama Putra (Sastra Jepang 2010). Marian bercerita soal persiapannya,
“Persiapan sebelum mengikuti Kanji Cup, seminggu benkyokai Kanji dan dilanjut di rumah latihan menulis Kanji.”
Menurut Maria, ini adalah pengalaman pertama kali baginya mengikuti Kanji Cup level chuukyuu, setelah sebelumnya pernah mengikuti level shookyuu walaupun tidak berhasil menjadi juara. Sedangkan Adityo Bagus Prabowo (Sastra Jepang 2009) dan Ade Putri Pratiwi (Sastra Jepang 2009), peserta yang menyabet gelar runner up pada level chuukyuu dengan tim UB3, mengaku bahwa tidak ada persiapan sama sekali. Adityo, akrab dipanggil Dito, mengungkapkan hal yang lebih mengejutkan dibandingkan Satriya,
“Persiapannya beneran nggak ada. Abis benkyokai monbusho selesai, dikabarin kalau didaftarin Kanji Cup. Itu aja dadakan dikasi tau sama Agus sensei”.
Luar Biasa! Dito sendiri mengakui bahwa sebelumnya dia pernah mengikuti Kanji Cup IX level shookyuu, walaupun sama dengan nasib Maria dulu, yaitu gugur. Bisa diambil hikmah dari sini bahwa pepatah “Kegagalan merupakan awal dari keberhasilan” terbukti adanya. Hal ini diharapkan bisa menjadi motivasi bagi para suporter sebagian besar Sastra Jepang 2012 untuk mengikuti kompetisi yang sama pada tahun berikutnya.

Selain itu para pemenang Kanji Cup rata-rata mengalami hambatan yang sama, yaitu lupa cara baca atau tulis Kanji selama lomba berlangsung. Tetapi meskipun demikian, mereka bisa secara cukup baik mengatasi hambatan tersebut dengan tetap rileks dan fokus. Ketika ditanya soal minder, mereka mengungkapkan jika mereka sama sekali mereka tidak mempunyai perasaan dengan peserta dari universitas lain.
“Masa minder, malu ah. Cuman kesel kalau tau Kanjinya tapi lupa nulisnya. Maklum udah nggak ada mata kuliah Kanji”, komentar Dito
Ketika akhirnya memasuki babak final chuukyuu, tim UB3 memang sejak awal sudah optimis akan meraih juara. Berbeda dengan tim UB2 yang ketika memasuki babak final justru kaget campur senang.
“Pas sampai final ya seneng sih, tapi kaget juga, soalnya merasa kalau persiapannya masih kurang. Sebelum lomba sih mikirnya, pokoknya harus sampai final dan paling nggak dapat juara. Tapi nggak kepikiran kalau bisa juara 1.” , ujar Maria.

Optimisme dari para pemenang Kanji Cup XI sekali lagi diharapkan dapat memicu semangat para mahasiswa Sastra Jepang Universitas Brawijaya untuk semakin tekun mempelajari Kanji, agar nantinya bisa ikut mewakili Universitas Brawijaya dalam Kanji Cup berikutnya. [Zahra, Finsy]

Leave A Reply

Your email address will not be published.